Translate

Tampilkan postingan dengan label Kai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 November 2015

[FF] Counting Stars



Counting Stars

By Cheery

Kim Jongin (EXO Kai), Park Jihyun (OC) ; err.. Fluff? ; G ; Ficlet


Park Jihyun tak pernah tahu, jika tidak bertemu dengan Kai seminggu saja sudah bisa memporak-porandakan hatinya. Ah, berlebihan sekali. Tapi memang itu kenyataannya. Meskipun Kai menyebalkan, meskipun Kai hitam -oh, aku minta maaf, Jongin- tetap saja, ‘kan, Kai adalah kekasihnya.

Minggu, 25 Oktober 2015

[FF] Heartless



"Heartless"

A drabble written by Cheery

EXO's Kai (Kim Jongin) & OC's Natt ; Hurt ; PG




"I'd rather be heartless than heartbroken." -@sixwordshort



Rabu, 31 Desember 2014

[FanFict] A Gift


A Gift

Kai – Jihyun series

Written by Cheery

Romance ; T ; Ficlet




"Ayolah Ji~," Kai masih bersih keras.

"Tugasku belum selesai, Kai," tolak Jihyun lagi.

"Tugasku juga belum." Jihyun memutar bola mata jengah. "Kau selalu mengutip pekerjaanku, Kai." Kai hanya tersenyum lebar.

"Kumohon," Kai kembali memelas.

"Uh, baiklah tuan keras kepala. Tapi sebentar saja, oke?"

"Oke, Nona Kim."

***

"Kau ingin mencari kado untuk siapa?" tanya Jihyun setelah masuk sebuah toko.

"Seorang teman," jawab Kai.

"Seorang gadis?" tanya Jihyun lagi karena toko ini penuh dengan benda-benda menggemaskan. Kalau saja ia membawa uang lebih, mungkin ia akan membeli sesuatu yang lucu dari toko ini.

"Ya, teman kecilku saat masih di Daegu."

"Ah..." Jihyun mengangguk mengerti.

"Aku tidak begitu tahu seleranya. Mungkin kau tahu selera para gadis," kata Kai sambil mengangkat bahunya.

Mata Jihyun menjelajahi toko itu dengan seksama. Ada banyak boneka, jam dinding aneka bentuk, bingkai foto, dan benda-benda lucu lainnya. Pandangan Jihyun berhenti pada boneka beruang besar berwarna cokelat. Jihyun menghampiri boneka itu lalu menunjuknya, "Kai ini sangat menggemaskan. Beruangnya cokelat seperti kau."

"Kau suka?"

"Ya. Ah, tapi ini untuk temanmu. Temanmu itu orang yang seperti apa?" Jihyun takut kalau selera teman Kai berbeda dengan seleranya, meskipun ia yakin gadis mana yang tidak suka dengan beruang semacam itu.

"Dia gadis yang manis." Dahi Jihyun berkerut. Kau baru saja memuji gadis lain di hadapan kekasihmu, Kai. "Baiklah, ambil yang itu, dia pasti suka." Kai membawa beruang itu ke meja kasir. Ia juga menyuruh Jihyun untuk memilih kartu ucapannya.

"Bisa kau tuliskan juga? Kau tahu tulisan tanganku tidak terlalu bagus," minta Kai.

"Eum, baiklah. Kau ingin mengucapkan apa?" tanya Jihyun malas. Moodnya sudah mulai memburuk.

"Happy birthday, hope you always get your best in your life," ucap Kai.

Jihyun menulis kalimat yang diucapkan Kai dengan rapi. "Sudah."

"Oh, tuliskan juga aku sangat merindukannya, bisakah kita bertemu dalam waktu dekat?" Oh Kim Jong In, apa kau baru saja mengucap kata rindu pada seorang gadis di depan kekasihmu sendiri?

"Kau yakin?"

"Kenapa tidak? Ah, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Oh, tambahkan kata I love you juga dibelakangnya."

"Baiklah." Jihyun kembali menulis. "Selesai."

"Dia pasti semakin cantik," puji Kai.

Jihyun meletakkan bolpoinnya kasar, "Cukup! Aku mau pulang."

***

Esok paginya saat akan berangkat ke sekolah, Jihyun masih betah mengucap sumpah serapah yang ditujukan untuk Kai. Lelaki itu benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Mengatakan seorang gadis cantik, manis, dan merindukannya di depan kekasihnya sendiri, apa otaknya masih waras?

Jihyun menutup gerbang rumahnya hendak berangkat ke sekolah saat suara familiar terdengar menyapanya, "Pagi Nona Kim." Ya. Itu suara Kai.

Jihyun mengabaikannya dan meneruskan langkahnya untuk pergi ke sekolah. Uh, kenapa Kai malah bersikap biasa saja setelah kejadian kemarin? Tidakkah ia sadar gadisnya sedang merajuk?

"Ya, Ji, kau sudah mengerjakan tugas dari Lee ssaem?"

"..."

"Oke, sesampainya di sekolah nanti aku orang pertama yang pinjam. Jangan berikan pada siapa-siapa," suruh Kai.

Jihyun masih mengabaikannya. Kim Jong In, setidaknya kau bertanya mengapa Jihyun mengabaikanmu, dasar tidak peka!

Seharian Jihyun mengabaikan Kai sepertinya tak berdampak apapun pada lelaki berkulit tan itu. Ia sama sekali tak menanyakan perihal Jihyun bersikap demikian padanya. Sampai pada hari ketiga sepertinya ia harus bersyukur akhirnya makhluk astral itu peka juga telah diabaikan oleh kekasihnya.

Kai terus mengikuti kemanapun Jihyun pergi dan menanyakan mengapa Jihyun mengabaikannya. Bukankah itu sudah jelas, Tuan Kim? Ia cemburu, bodoh! Ia cemburu kau memuji gadis lain di hadapannya. Ia cemburu kau merindukan seorang gadis selain dirinya.

Meski Jihyun sudah biasa dengan Jongin yang terus berada di sekitarnya, tapi ayolah, Jihyun sedang kesal dan penyebab kekesalannya berada di sekelilingnya. Ia merasa tidak nyaman. "Ya, berhenti mengikutiku!" sentaknya.

Seakan kebal dengan bentakan Jihyun, saat pulang sekolah pun Kai masih membuntutinya. Sampai di rumah, Kai terus mengirimi pesan dan menelpon Jihyun. Jihyun merasa jengah ketika ponsel hitamnya berdering untuk yang ke dua puluh kalinya dalam setengah jam terakhir. "Ya, aku sedang kesal padamu bodoh! Jangan menghubungiku!" ia memutus sambungan teleponnya sepihak kemudian.

Dan benar saja, keesokan paginya, ia tak menemukan Kai yang menyapanya di depan pagar rumah. Sesampainya di sekolah pun ia tak menemukan lelaki itu. Sampai 3 menit sebelum bel masuk berbunyi, ia baru menemukan Kai dengan mata kantuknya berjalan santai menuju bangku, duduk, menaruh kepala pada kedua tangannya yang terlipat, kemudian memejamkan mata. Kebiasaan pagi khas Kim Jongin.

Kai tidak mengikutinya lagi, dan tidak bicara sekalipun pada Jihyun. Entahlah Jihyun harus merasa senang atau bagaimana, karena sejujurnya ada sedikit perasaan bersalah yang menghinggapinya karena sudah membentak Kai di telepon kemarin. Tapi, toh rasa gengsinya lebih besar. Jihyun pikir, Kai lah yang harusnya meminta maaf, bukan dirinya.

Empat hari berselang, dan mereka belum juga berkomunikasi sedang rasa bersalah yang menggelayuti Jihyun makin nyata. Haruskah ia meminta maaf? Peperangan ego dalam  diri gadis itu tejadi, namun pada akhirnya rasa keras kepala lah yang lebih dominan.

Jihyun menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Siang tadi, Nara -salah satu teman dekatnya- bertanya apakah Jihyun sedang bertengkar dengan Kai karena ia jarang melihat mereka bersama beberapa hari ini. Jihyun tak bisa mengelak dan berakhir dengan menceritakan kekesalannya terhadap Kai pada Nara.

Nara bilang, mungkin saja Kai sedang menyiapkan sesuatu yang spesial untuknya karena mengingat kurang dari seminggu lagi adalah hari ulang tahunnya. Jihyun menerima sugesti positif Nara dan berharap apa yang dikatakan Nara benar adanya.

Tiga hari selanjutnya, semua berjalan normal selain Jihyun-Kai yang masih saling bungkam. Ya, memang tiga hari terakhir ini Jihyun lebih sering memperhatikan Kai, jika saja ada yang aneh dengan kekasihnya itu. Tapi semua berjalan normal. Ia pulang sekolah tepat waktu, mengurus Monggu dengan baik, sesekali pergi bermain bola dengan Sehun dan teman-teman lainnya di lapangan dekat rumah, dan lampu kamarnya juga sudah padam tepat pada pukul sembilan malam.

Jihyun mulai meragukan pendapat Nara tempo hari -soal Kai menyiapkan kejutan untuknya-. Ia tidak terlihat sibuk sama sekali, bahkan cenderung santai, padahal dua hari lagi adalah hari spesialnya. "Apa dia lupa?" gumamnya sedih.

Tak bisa dipungkiri lagi, sudah hampir dua minggu ia dan Kai tidak saling berkomunikasi, ia merindukan Kai, dan sangat menyesal telah membentaknya dan menyuruh Kai untuk tidak menghubunginya. Kai benar-benar tidak menghubunginya, bahkan tidak menyapanya saat mereka berpapasan di sekolah. Jihyun benar-benar merindukan Kai.

Tiba saat hari ulang tahun Jihyun, gadis itu bangun seperti biasa pada pukul lima pagi. Mengecek ponselnya yang penuh akan puluhan ucapan selamat dari teman-teman dan saudara-saudaranya. Ia tak membuka pesan mereka satu per satu, ia hanya mencari satu nama dalam kumpulan pesan itu. Namun nihil, ia tak menemukan nama Kai, Kai tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya.

Jihyun berjalan dengan lesu saat memasuki kelas, apa Kai benar-benar marah padanya? Biasanya Kai selalu jadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya, tapi sampai pukul tujuh pagi ini Kai masih belum menampakkan batang hidungnya.

Kai tiba di kelas semenit setelah Kim seonsaengnim, untung saja Kim ssaem adalah guru paling sabar, jadi Kai diijinkan mengikuti pelajaran. Sepanjang pelajaran Jihyun tidak bisa fokus, ia terus memperhatikan Kai yang duduk dua baris di depannya. Hari ini Kai benar-benar terlihat sangat biasa, yang mengakibatkan Jihyun lebih yakin bahwa Kai melupakan ulang tahunnya.

Banyak teman sekelas yang mengucapkan selamat pada Jihyun, Kai? Entahlah, tapi bocah itu bertingkah seakan tak ada kejadian apapun yang menarik perhatiannya.

Sepulang sekolah, Jihyun mendapat kejutan kecil dari teman-teman dekatnya -Nara, Hyesung, dan Minji. Mereka memberi mini tart dengan beberapa lilin kecil diatasnya serta beberapa hadiah.

Sesampainya di rumah, Jihyun juga mendapat tart cokelat besar dari orang tuanya dan ia senang bukan kepalang mengetahui sepupu kesayangannya yang sedang kuliah di California tau tau sudah duduk malas sambil menonton televisi di ruang keluarga.

"Oppa!" teriaknya girang.

"Hi, darling. Happy birthday~"  balas Park Chanyeol -sepupunya sumringah.

"Kenapa tidak bilang akan ke Seoul?" tanya Jihyun kemudian keduanya berpelukan.

"It's surprise, Honey," jawab Chanyeol.

"Oh, jadi kau sekarang bicara dengan bahasa Inggris, hm?" ledek Jihyun karena Chanyeol belum mengucap kata dengan bahasa Korea sedari tadi. Chanyeol hanya terkekeh ringan lalu mengusap kepala Jihyun.

"Ayo kita makan tartmu, cokelatnya sangat enak, aku sudah mencicipinya tadi."

"Yah! Oppa! Bahkan lilinnya belum dinyalakan!"

---

Jihyun bahagia hari ini, ia mendapat banyak perhatian dari teman-teman dan keluarganya. Tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya, kebahagiaannya terasa belum lengkap. Oh, yeah, tentu saja Kim Jong In, memang siapa lagi? Perlu kalian tahu bahwa sekarang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat dan makhluk yang tinggal di samping rumahnya itu belum juga mengucapkan selamat ulang tahun pada Jihyun.

Terhitung mulai pukul tujuh malam tadi, Jihyun berharap setidaknya Kai mengiriminya pesan ucapan selamat. Ia tahu ia memang egois dan terlalu err.. oke, cemburu pada Kai. Ia menyesal. Benar-benar menyesal. Ia tidak tahu bagaimana cara memperbaiki hubungannya dengan Kai. Kalau tahu akan begini, ia pasti tidak akan membentak Kai waktu itu.

Jihyun memejamkan matanya sambil mencari cara agar hubungannya dengan Kai bisa kembali membaik. Ia lelah berada dalam situasi seperti ini, ia benar-benar merindukan Kai. Cukup lama Jihyun berpikir, tanpa sadar ia pun terlelap.

---

Jihyun terbangun karena mendengar deringan ponsel. Tangannya sibuk mencari-cari ponsel yang ia letakkan di sembaran tempat. Ketemu. Ia sempat melirik sekilas jam dinding warna pinknya sebelum memejamkan mata lagi. 23.55. Orang sialan mana yang menelponnya di tengah malam begini?. Jihyun janji akan menghujaninya sumpah serapah jika alasannya benar-benar tidak penting!

"Yeoboseyo," ucapnya malas.

"..."

"Yeoboseyo," ulangnya lagi agak keras.

"..."

"Ya! Sialan! Kalau tidak penting akan ku-" ucapan Jihyun terpotong seketika ia mendengar nada dari tuts tuts yang dirangkai menjadi lagu selamat ulang tahun. Jihyun hanya diam sampai lagu itu selesai, menikmatinya meskipun ia sempat terkekeh saat orang di seberang sana memencet tuts yang salah.

"Ji," suara dari seberang telepon menyapanya. Jihyun terpaku. Ini suara yang ia kenal, ini suara yang ia rindukan, ini suara Kim Jongin. Segera ia melihat layar ponselnya dan benar saja, nama Kai memang tercetak jelas disana sedang menghubunginya. Bodohnya ia tak mengecek dulu.

"Jihyun," ulang Kai lagi yang berhasil menyadarkan Jihyun.

"Ya?"

Terdengar helaan nafas dari Kai, "Hh, syukurlah. Ku kira kau ketiduran."

"Tidak, Kai,"

"Aku sedang di balkon sekarang, bisa kau melihatku?" minta Kai.

Jihyun langsung beranjak dari kasurnya, menyibakkan tirai dan keluar menuju balkon kamarnya. Ia terpaku melihat balkon kamar Kai yang dihiasi dengan aneka balon dan pita. Ada tulisan "Selamat Ulang Tahun Kim Jihyun" dengan font yang lumayan besar. Kai sendiri tersenyum sambil memegang pianika yang kalau Jihyun tidak salah ingat, itu adalah pianika sejak jaman mereka di sekolah dasar. Kai menggunakannya untuk melantunkan medley happy birthday tadi.

"Hi,  apa kau keberatan jika aku memintamu kemari dan merayakan hari ulang tahunmu?" tanya Kai dengan ponsel masih menempel di telinganya.

Jihyun meresponnya lambat, tapi tersenyum pada akhirnya dan segera menuju rumah Kai. Jihyun menutup mulutnya dengan sebelah tangan ketika sampai di balkon kamar Kai. Kini Kai memegang kue sederhana dengan lilin angka satu dan tujuh di atasnya.

"Happy birthday, Baby. Buatlah permohonan," ucap Kai lembut. Jihyun menurut lalu meniup lilin pada kuenya.

"Ini, kado untukmu," Kai menyerahkan sebuah kado yang ukurannya cukup besar.

Jihyun menerimanya, "Apa ini?"

"Buka saja."

Jihyun membuka bungkus kadonya, menemukan sebuah kartu ucapan disana sebelum membuka keseluruhan isi kado.

Happy birthday, hope you always get your best in your life. I miss you and I love you.

Jihyun kenal dengan tulisan ini. Ini bukan tulisan buruk Kai melainkan tulisan rapi miliknya. Ia mengernyit, jangan-jangan...

Jihyun merobek bungkus kado secara brutal yang kemudian mendapat umpatan Kai, "Ya! Pelan-pelan. Aku membungkusnya susah payah." Dan benar saja, ia menemukan boneka beruang besar berwarna cokelat dan ia benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa?

"Bukankah ini.."

Kai mengangguk dan tersenyum lembut, "Kau suka?"

Jujur saja, Jihyun benar-benar ingin menangis sekarang, "Jadi selama ini?" Jihyun merutuki dirinya. Bagaimana bisa dia cemburu pada dirinya sendiri? Ia benar-benar merasa bodoh.

Kai memeluknya, menghirup aroma shampoo strawberry Jihyun yang masih dipakainya semenjak sekolah dasar, "Aku merindukanmu."

Jihyun sesenggukan dalam dekapan Kai. Ia kesal, terharu, senang, dan entah perasaan apalagi yang ia rasakan sekarang. "Kau menangis?" tanya Kai melepas pelukannya.

"Kau menyebalkan Kim Jongin! Kau benar-benar menyebalkan! Aku membencimu! Kau tidak tahu betapa frustasinya aku selama dua minggu ini, hah?! Ku pikir kau marah padaku. Kau menghiraukanku! Bahkan kau baru mengucapkan selamat ulang tahun lima menit sebelum hari ini berlalu! Kau sungguh menyebalkan!" Jihyun menumpahkan semua perasaannya sambil menangis.

"Uljima," Kai mengusap air mata Jihyun dengan kedua ibu jarinya. "Maaf."

"Ku pikir kau berselingkuh dengan teman Daegu-mu itu," ungkap Jihyun dengan nada takut.

Kai hanya tertawa ringan menanggapi kekhawatiran gadisnya, "Tidak akan, Ji. Lagi pula aku tidak pernah tinggal di Daegu, aku tinggal di Busan sebelum pindah ke sini. Ku pikir kau juga tahu."

Jihyun menepuk jidatnya, "Benar! Kenapa aku bisa lupa. Aish, tetap saja kau menyebalkan, Kai. Ini bahkan sudah lewat sepuluh menit dari hari jadiku. Kau benar-benar orang terakhir yang mengucapkan, cih,"

Kai terseyum lagi, senyum yang Jihyun rindukan. Jihyun sangat bersyukur, Kai tidak marah padanya, hubungan mereka membaik, Kai mengingat ulang tahunnya dan bahkan memberikan kejutan manis di penhujung hari. Oh, yeah, benar-benar penghujung.

Kai menatap kedua iris Jihyun lekat, "Aku sudah sering menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, menurutku itu terlalu biasa. Maka dari itu, untuk kali ini aku menjadi orang terakhir yang mengucapkannya, aku ingin menjadi pria terakhir dalam hidupmu juga."

Jihyun ikut tertular senyum lembut Kai. Di keadaan lain, mungkin Jihyun akan menertawai Kai jika berkata demikian, mengatai Kai makhluk paling gombal, atau menyuruh Kai untuk menyimpan rayuan murahannya. Tapi tidak untuk kali ini, ia tak ingin merusak momen romantisnya bersama Kai.

Kai menuntun Jihyun ke dalam dekapannya kembali, "Aku merindukanmu," ucap Kai untuk yang kedua kalinya. Jihyun mengangguk. Ya, ia paham, karena ia juga merasakan hal yang sama. Hanya hening yang menyelimuti mereka beberapa saat.

Sampai akhirnya..

"YA! Park Jihyun! Apa yang kau lakukan tengah malam begini dengan seorang namja?" pekik Chanyeol yang berdiri di balkon kamar Jihyun, berhasil membuat keduanya melepas pelukan mereka.

"Ups, kurasa aku lupa menutup pintu kamarku saat keluar tadi."

"Ck, hyung itu kenapa muncul disaat yang tidak tepat, sih?"



-FIN-

Sabtu, 07 Juni 2014

[FanFict] Good Morning, Ji~


A short story

Written by Cheery



“Good Morning, Ji~”

Kai-Jihyun Series

Happy reading ^^



“…sepertinya aku juga sedikit ‘sakit’ pagi ini…”



“GOOD MORNING, KIM JI HYUN~!!”

Seorang gadis yang baru saja menutup gerbang rumahnya dan ingin menuju sekolah, seketika menoleh ke sumber suara bising yang menginterupsi indera pendengarnya. Tak sulit baginya untuk menemukan sesosok bocah laki-laki berkulit gelap yang tengah tersenyum sangat lebar sambil melambaikan tangan ke arahnya, berdiri tak jauh dari tempatnya.

Gadis itu mengerutkan dahinya sebentar sebelum mendengus sebal. Pandangannya turun ke aspal yang dipijaknya dan melihat beberapa kerikil. Tangannya menggapai salah satu batu kerikil dan-

“AWW! Apa yang kau lakukan, hah?!” senyuman bocah laki-laki tadi menghilang begitu merasa ada benda keras menerjang dahinya.

Gadis tadi berjalan santai sambil tersenyum karena lemparannya yang tepat sasaran. “Kau yang apa-apaan. Pagi-pagi sudah berteriak sok Inggris, dan apa tadi? Kim Ji Hyun? Margaku Park, bukan Kim,” omel gadis itu-Jihyun-

“Shh, tapi kau tak perlu melemparku dengan kerikil itu, kan? Apa begitu cara menyapa kekasihmu di pagi hari?” bocah laki-laki di depannya membela diri.

Jihyun hanya cengengesan mendengar pembelaan kekasihnya, “Eh! Kai?!”  raut mukanya mendadak berubah terkejut.

“Wae?” Kai, bocah laki-laki itu hanya bertanya datar. Mood baiknya sedikit hilang pagi ini.

Jihyun melirik jam tangan hitam di pergelangan kirinya, “Whoah, jam 6 kurang 10 menit! Ada apa denganmu? Kau sakit?” tanyanya sambil menempelkan punggung tangannya pada dahi Kai. “Tidak demam, kok,” ia menarik tangannya lagi.

Bagaimana tidak terkejut, Kai adalah tipe orang yang sulit bangun di pagi hari. Biasanya ia sampai di sekolah sekitar 5 menit sebelum pelajaran dimulai (itu pun ia masih menguap saat sudah duduk di bangkunya), tapi ini? Ia sudah terlihat rapi dengan seragam sekolah lengkap dengan tas punggungnya dan bersiap berangkat untuk melaksanakan kewajibannya menuntut ilmu.

Kai yang tahu maksud pembicaraan Jihyun langsung mendengus, “Aku ingin berangkat bersamamu pagi ini, tapi yang kudapatkan malah lemparan kerikil,” keluhnya.

“Ya sudah, kalau begitu ayo berangkat,” bukannya menggandeng tangan Kai, Jihyun malah menarik lengan blazer bocah lelaki itu. Sungguh tidak romantis!

Tak butuh waktu lama bagi mereka sampai ke halte bus dan menunggu busnya datang. Mereka duduk bersebelahan dengan Kai yang masih memasang muka masam. “Ya, Kai-a,” Jihyun berinisiatif membuka suara.

“Hm?”

“Kau masih kesal ya?” tanya Jihyun. Sebenarnya dia juga sedikit merasa bersalah.

“Tentu saja! Padahal tadi moodku tadi sudah sangat baik,” kata Kai.

“Mianhae,” ucap Jihyun tulus.

“Dahiku sedikit lecet, ketampananku berkurang 10%!” kata Kai sambil megusap dahi sasaran kerikil Jihyun tadi.

“Mwo?!”pekik Jihyun. “Kau bahkan tidak tampan sama sekali,” gumamnya pelan.

“Apa?” tanya Kai yang sepertinya mendengar gumaman tak jelas Jihyun.

“Ah, aniya. Kalau begitu aku akan mengobati dahimu,” jawab Jihyun sambil tersenyum.

“Eh?”

“Ya, anggap saja untuk menebus kesalahanku,” lanjutnya lagi.

“Bagaimana cara-“ CHU~ kecupan singkat dari Jihyun berhasil mendarat sempurna di dahi lecet Kai sebelum namja itu menyelesaikan kalimatnya.

Sepersekian detik setelahnya, Jihyun langsung berlari masuk ke bus yang baru saja datang, ia juga tak tahu syaraf mana yang rusak dari otaknya barusan. Jihyun kembali ke pintu bus dan melihat Kai masih duduk mematung di tempatnya. Ia sedikit memekik, “Kau akan terlambat jika terus membeku disitu, Tuan Kim.”

Teriakan Jihyun berhasil membuat Kai tersadar lalu mengembangkan senyum paling lebar yang ia bisa. Moodnya kembali membaik berkat Jihyun, bahkan berkali-kali lipat lebih baik.

Ini adalah pengobatan terbaik yang pernah kudapatkan.



-FIN-

Eotte? Aku nggak tahu ini FF masuk genre apa -_- Romance? Darimana romancenya? Comedy? Kayaknya juga enggak. Aduh, maafkan Chee yang masih abal ini ya. Maaf juga kalau ada typo(s), itu juga nggak disengaja, hehe. Kkamjong maaf ya, aku timpuk kerikil disini ._.v ketampananmu nggak berkurang sedikit pun, kok. Tenang aja, ya meskipun Sehun lebih tampan kemana-mana *dibakarKai *kaburbarengSehun. Sampai ketemu di Series selanjutnya, bye~

Selasa, 22 April 2014

[FanFict] 7 Years More


Tittle                       : 7 Years More

Author                    : Double C

Cast                       : Kai (EXO), Park Ji Hyun (OC)

Genre                     : Romace-Comedy, maybe?

Rating                    : PG-15

Length                    : 500+ words

Author’s Note        : Kai-Jihyun series ^o^ setelah sebelumnya ada “Sweet New Year” Kai-Ji couple kembali dengan “7 Years More”, semoga kalian suka. Disini aku bikin Kai agak sweet, semoga nggak terlalu OOC ya.. happy reading~

Warning               : Maybe typo(s) !

Park Ji Hyun, gadis berambut coklat tua itu sedang menyisir rambut saat mendengar ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Ia beranjak dari depan cermin menuju kasur king size tempat telepon genggamnya tergeletak. Kai?

“Ya, Kai?” jawab Ji Hyun setelah menempelkan ponsel di telinganya.

“Good morning, my precious~” jantung Ji Hyun serasa berhenti berdetak sementara saat Kai memberinya ucapan selamat pagi dengan suara khas bangun tidur yang ugh! His voice really so damn sexy!

Ji Hyun sedikit menetralkan detak jantungnya sebelum menjawab Kai lagi, “Ini sudah jam 9 Kai, kau baru bangun?” sial, suaranya malah bergetar.

“Hmm”, Kai menggumam. Ji Hyun menggigit bibir bawahnya mendengar suara serak Kai, jantungnya semakin berdegup kencang. “Apa sinyalnya sedang buruk? Suaramu terdengar bergetar, sayang.” Oh! Sial dua kali lipat, kenapa Kai begitu peka?

“Uh-oh- mungkin. Suaramu juga terdengar kurang jelas.” Ji Hyun semakin gugup.

“Kenapa gugup begitu, Ji? Hoaams..”  tanya Kai di seberang telepon sambil menguap.

“Eung? Tidak, kenapa aku harus gugup?”  keep calm Ji, batinnya menenangkan diri.

“Ah! Gotcha! Kau gugup karena mendengar suara bangun tidurku yang sexy ini, hm?” Skak mat! Apa anak ini bisa membaca pikiran orang lain?

Lagi-lagi Ji Hyun harus berusaha menormalkan detak jantungnya, “Tentu saja tidak, bodoh! Kau kira pikiranku sekotor itu?” Ji Hyun mencoba memakai nada kesal. Mau taruh dimana mukanya nanti kalau Kai tahu tebakannya benar.

Kai terkikik geli, “Tidak apa-apa, Ji. Aku tahu suaraku memang menggoda.”

“Sudah kubilang bukan seperti itu Kai!” Ji Hyun mulai kesal.

“Bersabarlah, sekitar 7 tahun lagi suara ini akan berbisik halus di telingamu dan memberimu ucapan selamat pagi setiap harinya saat kau bangun tidur.” Jong In sebenarnya sedang menahan tawa di seberang sana.

“Apa maksudmu?” dahi Ji Hyun berkerut.

“Baby, setidaknya aku harus lulus sekolah, kuliah, dan bekerja dulu untuk menikahimu, kan? Jadi bersabarlah..” tawa Kai sudah akan meledak kalau saja ia tidak menutupi mulutnya.

“YA! KIM JONG IN!” Ji Hyun benar-benar kesal sekarang.

“Hahahahahahaha” tawa Kai sudah tidak bisa ditahan lagi.

“Hentikan!” Ji Hyun masih kesal, bercampur malu juga sebenarnya.

“Iya, iya, maaf” Jong In mencoba mengatur nafasnya kembali. “Jadi, bagaimana?” tanya Kai ambigu.

“Bagaimana apanya?” bingung Ji Hyun.

“Kau mau menungguku selama 7 tahun, kan?” suara Jong In menjadi lebih serius.

“…”

“Kenapa diam saja? Aku serius Ji.” protes Kai karena tak mendapat jawaban.

“Kau serius?” Ji Hyun agak ragu. Apa Kai sedang melamarnya sekarang?

“Tentu saja.” jawab Kai yakin. Namun, seringaian jahil justru muncul di sudut bibir Ji Hyun.

“7 tahun ya? Eum.. itu terlalu lama, Kai. Aku tidak janji bisa mencintaimu selama itu.” kini Ji Hyun balik menggoda Kai.

“Ya, apa maksudmu Kim Ji Hyun?” berhasil, Kai mulai kesal.

“Ya, jangan seenaknya mengganti marga orang, Kai!”

“Namamu akan menjadi Kim Ji Hyun jika sudah menikah denganku nanti, jadi biasakanlah.”

“Siapa bilang aku akan menikah denganmu?”

“Memangnya kau akan menikah dengan siapa lagi?”

“Di luar sana masih banyak pemuda yang lebih tampan darimu mau menikah denganku.”

“Itu tidak akan terjadi, Nona.”

“Memang kenapa?”

“Kau hanya boleh dan akan menikah denganku!”

“Mana ada aturan seperti itu?”

“Tentu saja ada! Aku barusan membuatnya!”

“blablabla….”

“blablabla….”

Percakapan mereka di telepon berlanjut dengan adu argumen. Selalu seperti ini, sampai keduanya lelah beradu mulut dan entah siapa yang mau mengalah duluan dan mematikan sambungan telepon.



-FIN-

Minggu, 23 Februari 2014

[FanFict] Sweet New Year


Tittle                      : Sweet New Year

Author                  : Double C

Cast                       : EXO Kai (Kim Jong In), Park Jihyun (OC)

Genre                   : Fluff (?)

Length                  : Ficlet

Rate                       : T

Disclaimer           : Kai milik Tuhan, SM Ent, dan keluarganya. Plot dan alur murni pemikiran author.

Author’s note    : Annyeong chingus.. Chee is back! Ini fanfict pertama yang berhasil aku selesaikan dan aku publish. Ya, anggep aja ini fanfict debut(?) ahaha. Maaf soal ceritanya yang jelek atau apapun itu. Cerita ini murni dari hasil imajinasi author, so don’t copy this story without my permission. Happy reading and comment juseyo ^^

Warning               : Feel nggak dapet, cerita standart, and maybe typo(s).

Jihyun terus mengubah posisi tidurnya. Ia sangat bosan berada di kamarnya. Ini adalah malam tahun baru dan Jihyun sama sekali tidak memiliki acara apapun malam ini. Oh, yang benar saja, haruskah dia melewatkan malam tahun baru dengan tiduran di kamarnya? Kau bisa bayangkan sendiri betapa membosankannya hal itu untuk remaja seumurannya.

Ponsel Jihyun berdering tanda panggilan masuk, Kai. Rumah mereka bersebelahan, balkon kamar Jihyun juga menghadap langsung ke balkon kamar Kai. Kadang mereka bisa mengobrol hingga larut malam dari balkon masing-masing sampai tetangga meneriaki mereka karena kebisingan.

“Yeoboseyo” Jihyun menerima telefon sambil berjalan kea rah balkon kamarnya. Tak sulit untuk indera penglihatannya menangkap Kai yang tengah berdiri sambil menempelkan ponsel di tangannya.

“Kau sedang apa?” tanya Kai. Mereka tidak mematikan sambungan telefonnya.

“Kau bisa lihat sendiri kan, aku sedang menerima telefon darimu.” jawab Jihyun seadanya.

“Ini malam tahun baru.” kata Kai.

“Aku tidak bodoh, Kai.”

‘’Kau tidak ada acara?” Jihyun menghela nafasnya lalu menggeleng. Tidak usah dijawab, toh Kai juga bisa melihat gelengannya.

“Mau ke sungai Han?” tanya Kai lagi.

Jihyun tampak berpikir, “Bagaimana ya?” . Sebenarnya dalam hati Jihyun sangat senang karena setidaknya malam tahun barunya tidak untuk tiduran di kamar saja.

“Kalau tidak mau juga tidak apa-apa.” kata Kai sambil berbalik menuju kamarnya.

“Aku mau!” Kai hanya tersenyum menang mendengar jawaban Jihyun.

-Sweet New Year-

Ya, disinilah mereka sekarang, berjalan di sekitar sungai Han. Pemandangan disini sangat indah, mereka bisa melihat cahaya-cahaya lampu yang berpadu dari puluhan gedung pencakar langit. Cahaya dari  mobil-mobil yang melewati jembatan sungai Han juga turut menyumbangkan keindahan.

Sungai Han cukup ramai mengingat ini adalam malam pergantian tahun. Udara dingin yang melanda tidak menyurutkan niat pengunjung sungai Han –termasuk Jihyun dan Kai- untuk melihat ribuan kembang api yang biasanya akan dinyalakan jam 12 tepat untuk menyabut tahun baru. Kembang api yang akan meramaikan langit malam Seoul akan terlihat sangat menakjubkan dari sini.

Masih kurang lebih 2 jam lagi sebelum waktu menunjukkan pukul 12 tepat. Jihyun menoleh pada Kai, “Aku mau coklat panas.” ungkapnya.

“Yasudah, beli saja sana.” kata Kai enteng.

“Traktir aku.”

“Naega wae?”

“Karena kau yang mengajakku kemari, jadi kau yang traktir. Itu teorinya.”

“Cih, teori macam apa itu?” protes Kai.

“Teori Park Jihyun! Sudahlah, ayo. Di café yang itu, Chococheese Cake di sana sangat enak.” Jihyun menggandeng ah, tepatnya menyeret Kai menuju café yang ia maksud tanpa persetujuan Kai tentunya.

Tak lama kemudian mereka sudah duduk manis di dalam café sambil menikmati pesanan masing-masing. Mereka sama-sama memesan Hot Chocolate, bedanya Jihyun juga memesan Chococheese Cake-yang katanya sangat enak- dan Kai lebih memilih brownies dengan kacang almond di atasnya.

“Kai-ah, kau harus mencobanya. Ini benar-benar lezat.” Jihyun menyodorkan Chococheese Cake nya pada Kai.

“Tidak mau.”

“Ayolah, buka mulutmu. Aaa~” Jihyun tetap menyuruh Kai untuk mencobanya. Akhirnya dengan agak ragu Kai pun menyantap potongan cake yang disuapkan Jihyun itu.

“Nah, anak pintar. Bagaimana? Enak kan?” tanya Jihyun kemudian setelah Kai mengunyah cakenya.

“Biasa saja.” jawab Kai datar.

“Hh, harusnya aku tahu akan seperti ini. Menyebalkan.” gumam Jihyun sambil cemberut lalu dengan kasar menghabiskan cake miliknya. Sedangkan Kai hanya menatap gadis di depannya itu, merasa cara makannya saat ia marah adalah hal yang lucu. Mulutnya yang ia isi penuh sampai pipinya menggelembung membuat Kai terkekeh pelan.

“Hei, Ji..” panggil Kai.

“…”

“Ya, Ji!”

“Wae!” jawab Jihyun ketus.

“Kau marah?”

“Ani!” Kai tersenyum. Benar, Jihyun marah.

“Mianhae.” ucap Kai tulus. Jihyun mendongak ke arah Kai. “Cakenya enak, sangat enak.” lanjutnya dengan senyuman di akhir kalimat.

“Okay, apologize accepted, Mr. Kim.” Jihyun tersenyum.

“Kenapa dulu kau ingin sekali berteman denganku, Ji?” pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Kai.

Jihyun menghela nafas, ia mencoba membuka memori bertahun-tahun lalu, saat mereka pertama kali bertemu di tahun pertama sekolah dasar. Ia ingat benar Kai kecil yang selalu menyendiri disaat teman-teman yang lainnya bermain bersama, Kai yang selalu sibuk dengan buku gambarnya, dan Kai yang menurut Jihyun anti social. Beberapa anak yang ingin berteman dengannya bahkan diacuhkannya. Mungkin itulah yang membuat Jihyun penasaran dan ingin berteman dengan Kai.

Jihyun terkekeh mengingat betapa acuhnya Kai saat itu, “Entahlah, kau dulu sangat tidak pandai bersosialisasi, Kai.”

“Dan kau tetap ingin berteman denganku, kan? Kau sangat keras kepala.”

Jihyun kembali mengingat bagaimana Kai mengacuhkannya sama seperti yang lain. Tapi, ia tak gentar. Ia tetap berusaha untuk menjadi teman Kai, karena Kai begitu menarik perhatiannya.

“Setelah aku tahu kau pindah di dekat rumahku, aku pikir kita bisa berteman baik. Jadi, aku tetap berusaha menjadi temanmu. Kau sendiri, kenapa kau akhirnya mau menjadi temanku?”

“Kau tidak ingat? Dulu kau sangat cerewet, bahkan sampai sekarang pun begitu. Kau selalu bercerita apapun saat di dekatku meski aku tidak pernah meresponnya. Kau juga terus memintaku untuk menjadi temanmu. Ya, aku pikir jika aku setuju menjadi temanmu kau akan berhenti bicara. Tapi ternyata aku salah, cerewet memang sudah bakat alamimu. Jadi, aku mencoba untuk menerima takdirku yang harus mempunyai teman sepertimu.” cerita Kai panjang lebar lengkap dengan tampang memelas di akhir kisahnya.

“Cih, kau berkata seolah aku adalah musibah besar bagimu. Menyebalkan sekali. Harusnya kau bersyukur ada gadis kecil yang manis nan imut ingin berteman denganmu.” Jihyun mencibir. Kai hanya tertawa ringan, lalu mereka kembali sibuk menyantap makanan masing-masing.

“Kai-ah, 30 menit lagi. Ayo keluar.” ajak Jihyun setelah melihat jam tangan putih yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya. Kai mengangguk setuju kemudian mereka keluar dari café tersebut setelah tentu saja Kai yang membayar makanannya.

Mereka kembali berjalan di sekitar taman sungai Han lalu memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman.

“Kai-ah, ayo kita buat permohonan untuk tahun depan.” pinta Jihyun semangat. Kai hanya menatap Jihyun datar. Jihyun mendecak, “ayolah, katupkan tanganmu seperti ini, pejamkan matamu, kemudian katakan harapanmu dalam hati.” kata Jihyun sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan wajahnya.

“Kau yakin akan dikabulkan?” tanya Kai sangsi.

Jihyun mengangguk mantap, “Jika kau berusaha.”

“Baiklah.”

Keheningan menyelimuti mereka selagi mereka mengucapkan keinginan masing-masing.

Tuhan, aku mencintai gadis ini. Tolong jadikan dia milikku, aku ingin selalu bersamanya. Aku janji, akan menjaganya dengan baik.

Tuhan, aku sudah bosan menjadi teman Kai. Aku berharap… lebih. Bisakah.. aku menjadi seorang yang spesial di hatinya?

Kai dan Jihyun membuka mata mereka perlahan setelah mengucapkan keinginan masing-masing kemudian merekahkan senyum tanpa sadar.

11:58  2 menit lagi.

“Kai-ah, apa yang kau inginkan di tahun depan?” Jihyun menatap Kai, Kai menatap ke arahnya. Hening, namun tatapan mata mereka seolah berbicara dengan bahasanya sendiri.

“Aku… ingin Park Jihyun menjadi kekasihku.” jawab Kai pada akhirnya. Jihyun mematung, ia masih menatap Kai.

DUARR DUUAAARRR DUAARRR !!! 00:00 Kembang api mulai menari indah di langit Seoul. Jihyun belum merespon pernyataan Kai, ia menoleh untuk menikmati ledakan kembang api yang sangat mempesona, melepaskan diri sejenak dari tatapan Kai.

Jihyun kembali menatap Kai lalu tersenyum, senyum yang selalu menjadi favorit Kai, senyum manis yang kini hanya ditujukan untuk Kai, dan senyum yang selalu membuat Kai bahagia setiap kali menlihatnya.

“Kai-ah, sudah tahun 2014, kupikir aku bisa mewujudkan harapanmu sekarang.” kata Jihyun tetap dengan senyuman manis yang enggan hilang dari bibirnya.

Kai menatap Jihyun tak percaya, mata elangnya sedikit melebar setelah mendengar ucapan Jihyun tadi. Demi apapun, ia terlalu senang sekarang. Sedetik kemudian ia membawa Jihyun ke dalam pelukannya, mendekapnya erat, sangat erat.

“Ya, pabo! Kau mau membunuhku? Aku tidak bisa bernafas, bodoh.” ucap Jihyun dengan susah payah karena Kai memeluknya sangat erat.

Kai melepaskan pelukannya, “a-ah, mian.” katanya kikuk. “Aku terlalu senang.” lanjutnya lalu tersenyum lebar. Jihyun terkekeh. Mereka lalu menikmati kembang api yang belum selesai sedari tadi.

“Ji, apa harapanmu tahun ini?” tanya Kai tanpa menoleh.

“Hm? Harapanku juga baru saja terwujud.” Pernyataan yang cukup untuk membuat Kai menoleh dan sekali lagi menatap gadis itu tak percaya. Tatapan mereka kembali bertemu.

“Kau berharap aku menjadi kekasihmu?” tebak Kai. Jihyun tersenyum dan Kai anggap itu sebagai jawaban “ya”. Kai kembali memeluk gadisnya. Awal tahun yang manis untuk mereka.



-FIN-
 
C's Blogger Template by Ipietoon Blogger Template